Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Sosiologi Eufemisme

leave a comment »

ATAS nama kesantunan, kita telah terbiasa menggunakan bahasa yang memiliki pesan dalam makna harfiah, dan pesan dalam makna “yang diinginkan”, yang kita sebut sebagai eufemisme.

Seperti penggunaan idiom “lumayan” atau “dan lain-lain”. Bila ada seorang yang bertanya apakah seseorang cantik atau tampan, kebanyakan dari kita akan menjawab “lumayan”. Makna “lumayan” merupakan makna “antara”: antara cantik atau tampan dengan jelek. Bangsa kita tidak memiliki keberanian untuk menyebut seorang jelek, sekaligus tidak memiliki kebesaran hati untuk mengakui seorang tersebut benar cantik atau tampan.

Relativitas kebudayaan berbahasa kita bisa dilihat dari idiom “dan lain-lain”, atau etc. (etcetera) dalam bahasa Inggris. Belakangan dalam retorika pembicaraan ilmiah kita sering mendengar idiom “dan seterusnya”. Atau selebritas kita di televisi enteng sekali mengucapkan “segala macam”.

Kita sangat gampang, misalnya, menyebut hasil bumi andalan Indonesia adalah kelapa sawit, karet, kopi, pala dan lain-lain. Idiom “dan lain-lain” bisa berarti masih banyak yang lain selain kelapa sawit, karet, kopi, dan pala. Tetapi makna “dan lain-lain” hari ini adalah diksi untuk menutupi ketidaktahuan kita terhadap komoditas apa saja selain yang disebutkan di muka.

Bisa jadi komoditas andalan kita memang hanya kelapa sawit, karet, kopi, atau pala, sehingga “dan lain-lain” juga bermakna pengharapan. Pengharapan akan masih ada kemungkinan komoditas andalan lain dari hasil bumi kita.

Begitu juga idiom “dan seterusnya”. Semisal akibat bencana lumpur Lapindo adalah merosotnya kualitas hidup korban, depresi, emosi yang tidak terkendali, dan seterusnya. “Dan seterusnya” dapat berarti masih banyak yang lain juga bisa bermakna ketidakmampuan kita untuk menyebutkan akibat bencana lain dari lumpur Lapindo. Bisa jadi “dan seterusnya” bermakna akibat bencana lumpur Lapindo sangat banyak sehingga tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Dalam kajian sosiologi, interaksi individu dalam masyarakat menjadi perhatian teori interaksionisme simbolik. Dalam berperilaku kita menggunakan simbol-simbol, yang kita sebut bahasa maupun perlambang. Bahasa dikelompokan dalam bahasa lisan, tulis (termasuk gambar) dan tubuh. Sedang perlambang menggunakan media benda-benda maupun konsep-konsep imajiner teologi dan metafisik.

Erving Goffman mengenalkan teori dramaturi. Dalam teori dramaturi seorang berperilaku dalam dua bentuk, pentas depan (frontstage) dan pentas belakang (backstage) (Johnson, 1986). Dalam kesadaran otonomnya, seorang individu akan bertindak menggunakan naluri pentas belakang (backstage) untuk bebas menafsirkan sesuatu, sekaligus mengekspresikannya.

Namun bangsa kita telah terbiasa menggunakan pola ekspresi pentas depan (fronstage) sehingga kita dapat mengakomodasi kehendak masyarakat dengan menegasikan naluri individu. Permainan dramaturi ini dalam sistem nilai kita dianggap sebagai sesuatu yang “santun” dan “baik”.

Namun, nilai-nilai kesantunan dan kebaikan seperti ini sangat berpotensi kontraproduktif dalam relasi kebangsaan dan kemasyarakatan kita. Menjadi bangsa yang santun memang baik, tetapi bila karena kesantunan kita menggadaikan nilai-nilai kejujuran, kepercayaan, dan integritas dalam eufemisme tentu menjadi sesuatu yang berbahaya.

Karena itu, bila nanti sore saat Anda jajan bakso ditanya penjualnya akan pesan bakso yang “pedas” atau “tidak” jawab saja: “beri cabai lima buah” atau “minta sambal dua sendok makan”. Karena pedas atau tidak bersifat relatif, sedang jumlah cabai dua, tiga atau lima buah pertanggungjawabannya dapat dikuantifikasikan.

Written by kbplpengkajian

Mei 18, 2011 pada 4:30 pm

Ditulis dalam Febrie Hastiyanto

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: