Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Turun ke Bawah, Pleonasmekah?

leave a comment »

DALAM sebuah perbincangan di Kantor Bahasa, seseorang dari kami berceletuk, “Turunlah ke bawah!” Yang lain menyanggah dengan tenang, “Tentulah ke bawah, kalau turun. Lalu, mengapa mesti turun ke bawah?” Ujung-ujungnya, muncullah istilah pleonasme, muara dari perbincangan itu.

Bahasa adalah sistem lambang yang bersifat mana suka, hasil kesepakatan bersama antarpemakainya, yang digunakan oleh masyarakat untuk mengadakan interaksi. Dalam berinteraksi acap dijumpai pemakaian kata-kata yang berlebihan. Kata-kata yang berlebihan dalam pemakaian itulah dikatakan pleonasme. Pleonasme dari kata Latin “pleonasmus”, artinya “kata berlebih-lebihan” (Badudu, 1985: 55). Pleonasme dalam bahasa berarti pemakaian kata yang berlebihan-lebihan, yang sebenarnya tak perlu.

Benarkah “Turunlah ke bawah, pleonasme?”

Dalam KBBI edisi IV (2008) kata turun berarti bergerak ke arah bawah, bergerak ke tempat yang lebih rendah dari pada tempat semula, sedangkan kata bawah berarti tempat yang lebih rendah. Untuk itu, dapat dikatakan kalimat itu berlebih-lebihan karena pemakaian kata yang tidak perlu. Semestinya kalimat itu cukup dengan /Turunlah!/ Karena turun itu sudah menjelaskan ke bawah. Sebentuk dengan kalimat, /Dia naik ke atas/ dapat ditulis /Dia naik/ sebab kata naik sudah tentu menuju ke atas.

Dalam bahasa Indonesia, setidaknya, ada tiga jenis bahasa pleonasme. Pertama, dua kata atau lebih yang sama maknanya dipakai sekaligus dalam suatu ungkapan (bersinonim), seperti kata atau istilah agar supaya: “Rapat Istimewa PSSI perlu dilaksanakan agar supaya usul klub didengarkan”.

Penggunaan kata atau istilah agar supaya tidak perlu dipakai bersama, dapat kita pilih salah satunya: kata agar atau supaya. Bentuk lain, seperti kata atau istilah mulai dari: “Mulai dari waktu itu dia sudah tidak main bola lagi”. Kata atau istilah mulai dan dari pun dapat dipakai salah satunya. Begitu pula dengan kata atau istilah mulai sejak, ulang kembali, maju ke depan, demi untuk atau pada zaman dahulu kala.

Kedua, penggunaan kata yang kedua yang tidak diperlukan lagi karena makna yang terkandung pada kata itu sudah terdapat dalam kata yang (disebut) pertama, sekadar contoh mundur ke belakang: /Para pendukung meminta Moammar Khadafi mundur ke belakang karena keadaan tidak aman/. Penggunaan kata mundur, tentu memiliki arti ke belakang. Untuk itu, tidak perlu dipakai, cukup memilih salah satu saja.

Begitu pula dengan kata /tampil ke depan/, /maju ke depan/, dan lainnya. Bentuk lain yang acap kita jumpai dalam keseharian, seperti kata /menengadah ke atas/, /menundukkan kepala/, /melihat dengan mata kepala sendiri/, /kambuh kembali/ atau /pulih kembali/. Semestinya cukup dikatakan /menengadah/, /menunduk/, /melihat/, /kambuh/ atau /pulih/ saja.

Ketiga, dinyatakan dalam ungkapan terjadi penjamakan. Sekadar contoh para tamu-tamu: /Para tamu-tamu berdiri ketika prosesi nikah dimulai/. Penggunaan kata para dapat dihilangkan atau tidak mengulang kata tamu, cukup /tamu-tamu/ atau /para tamu/. Bentuk lain ada kata beberapa /beberapa negara-negara/, /kumpulan kasus-kasus/, /saling tarik menarik/, /banyak anak-anak/. Seharusnya dikatakan /beberapa negara/ atau /negara-negara/, /kumpulan kasus/ atau /kasus-kasus/, /saling tarik/ atau /tarik menarik/, /banyak anak/ atau /anak-anak/.

Pleonasme menurut Badudu (1993) timbul karena beberapa kemungkinan, di antaranya, pertama dibuat dengan tidak sengaja karena tidak tahu; kedua, dibuat karena tidak tahu bahwa kata yang digunakan mengandung pengertian yang berlebih-lebihan; ketiga, dibuat dengan sengaja sebagai gaya bahasa untuk memberikan tekanan pada arti.

Lalu, bagaimana dengan cara berbahasa Anda? Yang pasti, berbahasalah sesuai situasi dan kondisi sehingga dapat dikatakan baik dan benar. Bravo, bahasa Indonesia.

Written by kbplpengkajian

Mei 11, 2011 pada 4:25 pm

Ditulis dalam Diah Meutia Harum

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: