Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Untung Ada -Nya

leave a comment »

Dalam bus antarkota antarprovinsi (AKAP) yang saya tumpangi dalam perjalanan mudik ke Lampung, saya berkenalan dengan seseorang yang duduk di sebelah saya. Kami berkenalan, kemudian bercerita banyak hal, mengisi waktu perjalanan yang mulai menjemukan. Mungkin karena merasa telah akrab, kenalan baru saya itu bertanya: rumahnya di mana, Mas? Saya tertegun sejenak, meskipun mengerti maksudnya.

“Rumahnya di mana” merupakan kalimat yang sering kita ucapkan dalam percakapan sehari-hari. Kata “rumah” bisa diganti dengan kata “nama”, “bapak”, “bekerja”, dan seterusnya. Saya kira realitas kebahasaan ini menunjukkan kekeliruan yang umum, antara menggunakan kaidah akhiran –nya, dan kesantunan di satu sisi. Selama saya bersinggungan dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini, saya mendapati kesan pertanyaan itu diucapkan untuk menyantunkan tutur berbahasa.

Pemilihan kalimat tanya tersebut dipandang lebih santun ketimbang pemilihan kalimat: rumahmu atau rumah kamu di mana? Menggunakan kata ganti “Anda” dalam “rumah Anda di mana” jelas terkesan “dinas”, dan formal. Kata ganti “mu” atau “kamu” sudah pasti dianggap kurang sopan. Akhiran –nya kemudian menyelamatkan kita semua dalam kekikukan berbahasa, apalagi kepada orang-orang yang baru saja kita kenal.

Akhiran –nya dalam konteks kalimat tanya kenalan saya tersebut dalam kaidah berbahasa seharusnya digunakan sebagai kata ganti orang ketiga tunggal. Akhiran –nya juga semestinya kita gunakan sebagai kata ganti untuk menunjukan kepemilikan. Padahal dalam perjalanan hampir 24 jam dalam bus tersebut, kami tak sedang bergosip. Kami berbicara empat mata dan tak membicarakan siapa pun.

Ketika menyeberangi Selat Sunda, dalam Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Baruna yang kami tumpangi, penggunaan akhiran -nya yang keliru juga dilakukan seorang biduanita yang menghibur kami di atas kapal, di bawah teriknya matahari Bulan Juli. Ketika menyapa kami, penumpang KMP tersebut, sang biduanita berkali-kali meneriakkan: Ya, kepada para penumpang KMP Baruna-nya….

Untuk realitas kebahasaan ini, saya mendapati sang biduanita memaksakan akhiran –nya untuk mendapatkan rima yang pas dan enak didengar dalam mengakhiri kalimatnya. Anda dapat membayangkan bukan, intonasi biduanita yang mirip mbak-mbak cantik petugas protokol dalam upacara bendera. Ya, pembawa acara, biduanita, pembawa acara pertandingan tinju termasuk saritilawah umumnya menggunakan intonasi khas, mengalun, sedikit menggeram, dan mengakhiri kata-katanya dengan intonasi yang enak didengar.

Masih soal penggunaan kata ganti, musisi senior kita Iwan Fals pernah “salah tulis” dalam judul lagunya Ia atau Tidak, pada sampul album Belum Ada Judul (1992). Ditinjau dari liriknya, lagu Ia atau Tidak bercerita soal seseorang yang sedang merayu kekasihnya untuk “Bicaralah nona jangan membisu/Walau s’patah kata tentu kudengar”. Setelah merajuk, Iwan kemudian mengakhiri lagunya dengan “Jangan diam bicaralah/Ya atau tidak itu saja”. “Salah tulis” Ia atau Tidak pada judul lagu dengan membandingkannya dengan lirik lagu membuat kita mafhum. Sebenarnya Iwan hendak menggunakan kata “ya” yang secara sederhana bermakna persetujuan dari seseorang, bukan kata “ia” yang seharusnya digunakan sebagai kata ganti orang orang ketiga tunggal, yang sama maknanya dengan kata “dia”.

Kekeliruan Iwan sesungguhnya kekeliruan kita juga, karena seringkali kita tanpa sadar melakukannya dalam bahasa tulis sehari-hari.

Written by kbplpengkajian

April 21, 2011 pada 4:22 pm

Ditulis dalam Febrie Hastiyanto

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: