Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Bahasa Persatuan

leave a comment »

INDONESIA sebagai bangsa sungguh beruntung memiliki bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Dibandingkan Filipina, Malaysia, atau India, misalnya, kita lebih beruntung. Meskipun Filipina memiliki bahasa Tagalog, bahasa Tagalog hampir tidak mampu menjadi bahasa nasional. Malaysia punya bahasa Melayu, tetapi warganya lebih suka berbahasa Inggris. Begitu pula India.

Di Indonesia, perbincangan antarwarga di luar rumah, di tempat resmi, komunitas, dan lain-lainnya memakai bahasa Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke kita bisa berdialog dengan warga setempat dengan bahasa Indonesia. Anak-anak kecil di daerah lebih banyak diajari berbahasa Indonesia oleh orang tuanya. Belanja di toko, pasar, dan mal, bahasa Indonesia digunakan sebagai pengantar.

Salah satu masalah yang kerap dibahas dalam perbincangan mengenai bahasa Indonesia adalah banyaknya akronim. Singkatan yang berbentuk kata tersebut sering disebut orang sebagai indikasi kondisi bahasa Indonesia belum solid. Akronim bisa menunjukkan sebuah bahasa belum praktis dalam menyampaikan suatu ide atau informasi, terlalu panjang dan ngelantur. Akhirnya dipilih jalan pintas: memendekkan bahasa menjadi kata.

Pemendekan pun tidak memakai aturan baku. Bisa kombinasi kata di depan semuanya atau gabungan antara depan, tengah, depan. Ketika sudah berbentuk akronim, kadang orang pun lupa kepanjangan kata aslinya.

Contoh sederhana kades, akronim dari kepala desa. Jika mau ambil dari suku kata depan semuanya, tentu akronimnya kedes. Juga akronim raskin yaitu beras miskin. Tapi banyak orang terlalu bersemangat hingga menyebutkannya jadi beras raskin, alias beras beras miskin. Nah, yang miskin itu berasnya, apa yang menerima beras? Tampaknya unsur kenyamanan dalam pengucapan jadi pertimbangan pula.

Para ahli bahasa, sastrawan, jurnalis, praktisi media, guru, dan orang-orang yang banyak berhubungan dengan ruang publik merupakan penjaga garis depan kualitas berbahasa. Mereka punya andil besar dalam merusak, merawat, atau memperkaya bahasa Indonesia. Sulit membayangkan seandainya pembaca berita memakai bahasa Indonesia berantakan waktu siaran. Sulit pula membayangkan seandainya para sastrawan sengaja merusak bahasa Indonesia dengan memakai kosakata dan kalimat berantakan dalam karya sastranya.

Begitu pula para jurnalis menulis berita di korannya dengan kosakata berantakan. Dampak tindakan orang-orang yang berhubungan dengan publik seperti itu pasti luar biasa.

Contoh sederhana istilah “secara” yang dipopulerkan kru radio. Versi mereka artinya mengingat, seperti dalam kalimat “secara masalah itu penting, perlu segera diselesaikan”. Padahal istilah “secara” artinya dengan cara. Para penyiar radio bermaksud mengembangkan menjadi istilah tersendiri. Maksud ini cukup berhasil di kalangan generasi muda.

Berkembang tidaknya bahasa Indonesia sesungguhnya tergantung peran media massa cetak dan elektronik, buku, tayangan televisi, spanduk, billboard, poster, dan lain sebagainya. Mereka bertugas menyebarkannya kepada umum.

Sebab itu, memang perlu langkah-langkah strategis bagi kalangan tersebut. Sekuat apa pun suatu komunitas menyebarkan sebuah kosakata baru dan tata aturan baru berbahasa, jika tidak pernah disebarkan kepada umum, tentu masyarakat tidak akan tahu. Jika tidak tahu, tentu tidak akan mengikuti.

Andil orang-orang yang biasa muncul di media juga perlu diarahkan. Tentu kita masih ingat, ketika Pak Harto memakai akhiran “ken” dalam berbicara, banyak pula pejabat mengikutinya. Namun, saat pemimpin negeri ini tidak memakainya, otomatis kebiasaan ini hilang.

Written by kbplpengkajian

Oktober 27, 2010 pada 1:14 am

Ditulis dalam Ki Sanyoto

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: