Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Kita (2)

leave a comment »

MASALAH yang hakiki tidak terletak pada benar atau tidaknya wartawan turut serta dalam pemantauan sepak terjang tersangka (Baasyir), tetapi terletak pada motivasi penggunaan kata kita. Di satu sisi, kita memang terdengar/terasa nyaman di telinga/hati dan seolah-olah dapat digunakan sebagai upaya menghaluskan tindak berbahasa. Ia (dalam hal ini polisi) tidak hanya melibatkan kelompoknya, tetapi juga melibatkan orang yang di luar kelompoknya (dalam hal ini wartawan) dan bahkan semua orang.

Dengan demikian, praktis kata kita adalah sebuah konsep yang mendeklarasikan “tidak ada orang yang tidak terlibat”, semuanya turut serta. Di sisi yang lain, kita dapat dijadikan tempat berlindung pihak-pihak tertentu (dalam hal ini polisi). Karena semuanya turut serta, jika terjadi kesalahan, kesalahan itu adalah kesalahan bersama: kita, bukan kami, apalagi saya.

Menurut Putu Wijaya, dalam rubrik Bahasa majalah Tempo dua tahun lalu, kata ganti kita telah menjadi senjata penetrasi: upaya penaklukan secara psikologis, taktis, dan sopan, tetapi agresif dan efektif. Sebagai akibatnya, sebuah pertempuran pun dapat dengan tiba-tiba mereda berkat kata kita karena di medan pertempuran tidak ada lawan lagi.

Begitulah, kita (sebagai kata ganti orang pertama jamak) tampaknya memang belum dipahami secara benar penggunaannya oleh sebagian masyarakat. Di samping sering dikacaukan dengan kami, kita juga sering dikacaukan dengan saya (kata ganti orang pertama tunggal) dan kamu (kata ganti orang kedua tunggal). Hal itu tampak pada kalimat (1) dan (2) berikut ini. (Maaf, Pak, terlambat. Rumah kita jauh, Pak.

Nama dan alamat sudah, lalu apa agama kita?

Kesalahan penggunaan kita pada contoh di atas tidak hanya mencerminkan adanya pengacauan penggunaan kata ganti orang, tetapi juga mencerminkan adanya pengacauan memusnahkan batasan antarindividu, tidak ada lagi kepentingan saya dan kamu. Yang ada hanyalah persoalan bersama, kita. Segala pertentangan dan perbedaan, dengan demikian, lenyap tak berbekas. Akhirnya, demokrasi pun akan mati dibuatnya.

Bahwa setiap bahasa memiliki kaidah dan kekhasannya sendiri, bisa jadi, sudah tidak terbantahkan. Dalam hal kata ganti orang pertama jamak, misalnya, ternyata bahasa Indonesia memiliki dua kata: kita dan kami yang secara konseptual berbeda cakupan maknanya. Sayang, kekhasan itu tidak disyukuri (dengan menggunakannya secara benar), tetapi cenderung diabaikan, justru oleh kaum cerdik pandai yang seharusnya menjadi anutan pemakaian bahasa Indonesia.

Tidak jarang mereka melakukan “pemerkosaan” bahasa dengan memaksakan struktur bahasa asing (Inggris) ke dalam bahasa Indonesia. Di samping mengacaukan kita dan kami (agar sama dengan we), mereka juga sering memaksakan penggunaan kata tanya bahasa Indonesia: di mana dan yang mana (terjemahan leterlek dari where dan which) dalam kalimat berita. Pantaskah ulah mereka itu ditiru? Tidak dong. Salam.

Written by kbplpengkajian

Oktober 20, 2010 pada 7:16 am

Ditulis dalam Agus Sri Danardana

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: