Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Pemecahan Masalah?

leave a comment »

BAHASA merupakan persoalan yang kompleks dan dinamis. Pertumbuhannya mengiringi laju peradaban sebuah bangsa. Entah karena asyik atau karena latah, bahasa yang dipakai dalam masyarakat sering mengabaikan unsur logika. Dengan dalih yang penting saling mengerti logika bahasa “diperkosa” sedemikian rupa sehingga kehilangan alurnya, keluar dari relnya.

Banyak contoh penggunaan bahasa yang cenderung salah kaprah, seolah-olah masyarakat kita ini sudah sangat akrab dengan kesalahkaprahan. Sesuatu yang salah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah karena sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat.

Kosakata bahasa Indonesia banyak diperkaya dengan kata-kata serapan dari bahasa daerah yang ada di Indonesia dan bahasa asing. Proses pengayaan ini juga melalui beberapa jalan, di antaranya ialah proses pemadanan kata dan proses penerjemahan dari bahasa asing.

Seperti kita ketahui, banyak faktor yang mendasari masuknya kosakata bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Salah satunya adalah penjajahan dan penyebaran agama ke wilayah nusantara ini. Salah satu contoh pengayaan khazanah bahasa Indonesia adalah dengan cara menerjemahkan bahasa asing (dalam hal ini bahasa Inggris) ke bahasa Indonesia.

Di antara kita tentu pernah mendengar pemakaian frasa pemecahan masalah. Apakah pemakaian frasa itu sudah tepat? Frasa pemecahan masalah adalah bentuk terjemahan dari problem solving. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bentuk dasar kata pemecahan adalah pecah yang berarti (1) terbelah menjadi beberapa bagian, (2) retak atau rekah, (3) rusak atau belah kulitnya,(4) menjadi cair atau bergumpal-gumpal, (5) bercerai-cerai; tidak kompak, (6) tersiar, (7) mulai, (8) kalah, (9) sember, (10) bubar, usai, (11) terkalahkan.

Dari semua definisi itu dapat disimpulkan bahwa pecah berarti terbelah menjadi bagian-bagian kecil, seperti gelas yang apabila dibanting, maka akan pecah dan akan terbagi menjadi kepingan-kepingan kecil yang banyak jumlahnya. Itu artinya, ketepatan penerjemahan problem solving menjadi pemecahan masalah itu perlu dikaji ulang.

Pemecahan masalah bisa dikatakan tidak tepat karena dapat diartikan bukan membuat masalah menjadi beres, melainkan malah membuat sebuah masalah menjadi masalah-masalah kecil yang lain dan berjumlah banyak.

Secara semantis, makna problem solving adalah mencari jalan keluar penyelesaian sebuah masalah. Jadi, akan lebih tepat apabila problem solving diartikan sebagai penyelesaian masalah bukan pemecahan masalah. Seandainya logika dipakai untuk mengejawantahkan sebuah bahasa tentu syahdu sekali dirasakan. Kalau sebuah masalah justru malah terpecah menjadi beberapa bagian, maka pantas saja banyak masalah di negara kita ini yang tak tuntas dan justru malah menjadi masalah-masalah yang lain.

Kehati-hatian, ketelitian, dan kekreatifan seorang penerjemah sangat dituntut untuk menghasilkan sebuah terjemahan yang bisa dikatakan sebagai sesuatu yang menjembatani sebuah informasi kepada khalayak. Apabila terjadi kesalahan sedikit saja dalam menerjemahkan sebuah kosakata yang merupakan sebuah unsur serapan, akan fatal akibatnya.

Kepekaan seorang pembaca juga dibutuhkan untuk menghasilkan hubungan timbal balik yang romantis sehingga tercipta kondisi berbahasa yang berjiwa. Lalu, masihkah kita akan memecahkan masalah? Atau, hendak menyelesaikannya dengan tuntas.

Written by kbplpengkajian

September 30, 2010 pada 4:03 pm

Ditulis dalam Tri Wahyuni

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: