Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Salah Kaprah karena Mubazir

leave a comment »

Dalam pemakaian bahasa Indonesia, kita akrab sekali dengan bentuk-bentuk kebahasaan, seperti turun ke bawah, naik ke atas, dan maju ke depan. Bentuk-bentuk tersebut boleh dikatakan sebagai bentuk yang mubazir. Bentuk mubazir bila dibiarkan terjadi terus-menerus bisa jadi akan dapat berubah menjadi bentuk salah kaprah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terbaru, kaprah dimaknai sebagai lazim atau biasa. Dengan demikian salah kaprah dapat diartikan sebagai kesalahan yang umum sekali sehingga orang tidak merasakan lagi sebagai kesalahan. Karena sudah menjadi kelaziman, penolakan pun terjadi jika upaya pelurusan dilakukan. Penolakan lazimnya dilakukan karena terdapat rasa janggal pada bentuk kebahasaan hasil pelurusan.

Mari kita cermati bentuk-bentuk mubazir dan salah kaprah dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering mendengar kata berbesar hati, seperti pada kalimat kita harus berbesar hati menghadapi masalah ini. Makna besar hati dalam KBBI adalah sombong. Makna lainya adalah girang hati, bangga, dan gembira. Bukankah jika terkena masalah kita harus memecahkan masalah atau mencari solusinya bukannya berbesar hati. Akan tetapi memang adalah kenyataan, kita lebih sering suka menggunakan berbesar hati untuk konteks yang demikian itu. Kenyataan ini merupakan kenyataan yang harus segera diluruskan.

Mari kita cermati juga bentuk tenggat, yang hingga sekarang masih digunakan banyak orang. Orang mungkin tertipu dengan tenggang yang memang lazim diikuti dengan waktu, sehingga menjadi tenggang waktu. Bentuk tenggat kemudian diikuti dengan waktu, sehingga terbentuklah tenggat waktu. Makna tenggat dalam KBBI adalah batas waktu. Jadi, tenggat waktu, sekalipun dari pemakaian bahasanya terkesan lebih nyaman, sesungguhnya adalah bentuk yang mubazir. Kemubaziran terjadi lantaran bentuk tenggat yang berarti batas waktu kemudian diikuti lagi dengan waktu. Kemubaziran inilah yang menimbulkan kesalahkaprahan.

Demonstrasi ratusan mahasiswa atau bahkan mungkin ribuan mahasiswa yang terjadi di pelbagai kampus, juga melahirkan bentuk kebahasaan yang mubazir. Bentuk ratusan mahasiswa atau ribuan mahasiswa tentu sudah merupakan bentuk benar. Akan tetapi, orang sering tidak merasa nyaman dengan bentuk demikian itu. Serasa lebih nyaman digunakan ratusan massa atau ribuan massa. Bukankah makna massa dalam KBBI adalah sekumpulan orang yang banyak sekali? Kenapa massa yang jamak itu harus diawali numeralia yang juga jamak? Tentu bentuk demikian ini mubazir dan bentuk demikian itu juga segera beranjak menjadi bentuk salah kaprah.

Cermati juga bentuk persona kita. Bentuk “kita” yang sesungguhnya inklusif itu dianggap sama dengan “kami”, atau bahkan dianggap sama dengan saya yang jelas-jelas tidak bersifat inklusif itu. Beberapa artis ketika diwawancarai wartawan, misalnya, banyak yang maksudnya ingin menyebut pihaknya secara eksklusif, tetapi dalam ketidaksadarannya justru menyebut pihak yang tidak inklusif itu dengan “kita”. Bentuk kita pada “kita segera mengadakan konferensi pers”, yang diucapkan oleh seorang artis, katakan saja, jelas sekali tidak benar. Tentu saja bentuk eksklusif “kami” harus digunakan dalam konteks ini karena wartawan itu pasti tidak ikut dalam dalam konferensi pers. Jadi, pemakaian kita demikian itu jelas sekali merupakan fakta kesalahkaprahan.

Berkenaan dengan semua ini, kesalahkaprahan yang terjadi dalam pemakaian bahasa Indonesia, harus sesegera mungkin diluruskan. Demikian pula bentuk-bentuk mubazir itu mutlak harus segera dibereskan agar tidak menjadi fakta salah kaprah yang pada akhirnya justru makin menyulitkan.

Written by kbplpengkajian

September 1, 2010 pada 2:46 am

Ditulis dalam Ninawati Syahrul

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: