Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Di Balik Koranisasi dan Radionisasi

leave a comment »

APA sesungguhnya yang ada di balik bentuk koranisasi dan radionisasi dari segi kebahasaan? Bentuk koranisasi dan radionisasi sepertinya sama karena sama-sama berakhir dengan ‘isasi’.

Sekalipun kedua bentuk itu sepertinya sama, kenyataannya tidak demikian. Bentuk koranisasi memiliki kata dasar koran, sedangkan radionisasi memiliki kata dasar radio. Karena yang pertama berakhir dengan bunyi konsonan, yakni konsonan (n), bentuk -isasi dapat begitu saja ditempelkan hingga menjadi bentuk koranisasi.

Adapun bentuk kedua, radionisasi, berasal dari kata dasar radio yang berakhir dengan bunyi vokal (o). Nah, untuk kata dasar yang berakhir dengan bunyi vokal, bentuk -isasi tidak serta merta dapat ditempelkan.

Maka, muncullah bentuk varian –isasi, yakni -nisasi. Dari kenyataan kebahasaannya, sepertinya bisa dikaidahkan bahwa -isasi dapat muncul dalam lingkungan kebahasaan yang berbeda, yakni pada bunyi konsonan dan bunyi vokal pada kata dasar di depannya. Padahal, bentuk -isasi dan -nisasi yang merupakan varian -isasi, belum dirumuskan secara formal oleh pihak yang berwenang dalam bidang kebahasaan.

Bentuk -isasi, lazimnya digunakan untuk mewadahi bentuk serapan kata-kata yang berbahasa Inggris. Misalnya bentuk organisasi, yang merupakan bentuk serapan kata dari bahasa Inggris organization. Kalau bukan kata asing dari bahasa Inggris, kata itu berasal dari bahasa Belanda, yakni kata yang berakhir dengan -satie atau -isatie. Lihat saja bentuk structurisatie yang diserap menjadi strukturisasi. Demikian juga bentuk Belanda nasionalisatie yang berubah menjadi nasionalisasi dalam bahasa Indonesia.

Memang diakui, sekarang ini bentuk -isasi dan -sasi tidak hanya ada dalam bahasa Inggris, yakni -ization dan dalam bahasa Belanda -isatie karena dalam bahasa Indonesia muncul pula bentuk-bentuk seperti itu, contohnya turinisasi, lelenisasi, pompanisasi, neonisasi, dan aspalisasi. Akan tetapi dari segi kebahasaannya, jelas sekali bentuk-bentuk itu merupakan bentuk tidak benar.

Dalam bahasa Indonesia baku akhiran -isasi digunakan untuk menggantikan akhiran -ir yang berasal dari bahasa Inggris dan Belanda. Akhiran -isasi yang digabungkan dengan bahasa Indonesia, seperti turi, lele, pompa, aspal, neon, koran, dan radio bukanlah cara yang tepat. Ada cara lain untuk menyatakan makna yang identik dengan akhiran itu.

Kata-kata tersebut bisa diungkapkan menjadi usaha penanaman turi, usaha peternakan lele, gerakan pemasangan pompa, usaha pengaspalan, usaha pemasangan neon, usaha pemasyarakatan koran, dan gerakan pemasyarakataan radio.

Bentuk koranisasi dan radionisasi yang dijadikan judul tulisan ini sesungguhnya adalah bentuk kebahasaan yang tidak boleh hadir dalam bahasa Indonesia. Namun, bentuk kebahasaan yang tidak benar dari segi kaidah kebahasaan ini, banyak muncul dan terus digunakan oleh penutur bahasa Indonesia. Maka, yang harus dicermati adalah kehati-hatian dalam menggunakan kaidah kebahasaan.

Written by kbplpengkajian

Juli 14, 2010 pada 12:39 pm

Ditulis dalam Ninawati Syahrul

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: