Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Sup Buah dan Pindang Baung

leave a comment »

Setelah makan siang, biasanya kami menutupnya dengan makan sup buah. Sup buah adalah potongan beraneka jenis buah-buahan yang diberi kuah campuran air gula atau sirop dan susu. Buahnya terdiri dari apel, anggur, semangka, melon, lengkeng, alpukat, mangga, dan lain sebagainya. Segar sekali rasanya bila dicampur es dan dinikmati di siang hari yang panas.

Sebelum banyak pedagang sup buah di pinggir jalan, banyak yang bertanya-tanya tentang apa itu sup buah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sup berarti masakan berkuah dari kaldu yang diberi bumbu pala, lada, dan sebagainya. Jenis sup yang selama ini kita kenal adalah sup ayam, sup jagung, dan sup buntut. Mungkinkah buah-buahan dimasak dengan kaldu yang diberi bumbu lada dan pala? Kalau gulai ikan dicampur dengan potongan buah nanas sepertinya sudah sering didengar dan dicicipi. Tapi kalau aneka buah-buahan dimasak menggunakan bumbu pala dan lada, sepertinya aneh.

Sup buah adalah salah satu contoh perluasan makna kata sup. Walaupun tidak berbumbu lada dan pala, campuran potongan aneka buah yang diberi kuah gula atau sirop dan susu diberi nama sup buah. Mungkin letak persamaannya adalah sama-sama berkuah.

Kalau logikanya hanya karena sama-sama berkuah, mungkin di masa yang akan datang semua yang berkuah akan dinamai dengan sup.

Selain masalah bumbunya, jenis penulisan sup yang ada di gerobak penjual sup buah membuat saya tersenyum. Ada yang menuliskan sop buah, soup buah, dan shop buah. Untung saja tidak ada yang menuliskannya dengan kata soap buah.

Seperti halnya sup buah, ada satu jenis masakan lain yang terkadang membuat orang (khususnya non-Sumatera) bertanya-tanya, yaitu pindang ikan (baung atau patin). Di Bandung, di tempat asal saya, pindang adalah sejenis ikan yang diawetkan dengan cara dibumbui garam dan direbus.

Sejalan dengan apa yang saya tahu, pindang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ikan yang digarami dan dibumbui kemudian diasapi atau direbus sampai kering agar dapat bertahan lama. Pindang yang dikenal di sini (terutama Lampung dan Palembang) adalah sayur ikan berkuah yang dibumbui dengan beraneka bumbu dapur dan ditaburi daun kemangi. Sangat berbeda artinya bukan?

Menurut Mansoer Pateda (1995), sebuah kata maknanya bisa meluas disebabkan oleh perkembangan pemikiran pemakai bahasa. Menurut dia, yang terpenting kita tetap melihat keterkaitan makna dasar atau makna semula. Bila sup buah dapat dikaitkan dengan sama-sama berkuah, bagaimana dengan pindang? Apa keterkaitan pindang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan pengertian yang ada di masyarakat (Lampung dan Palembang)? Saya tidak berani menerka-nerka jawabannya. Yang pasti hal ini dapat menjadi pekerjaan rumah bagi ahli bahasa untuk menelitinya.

Written by kbplpengkajian

Juni 30, 2010 pada 2:08 am

Ditulis dalam Ratih Rahayu

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: