Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Ambil Ginjal

leave a comment »

Suatu kali saya berkunjung ke sebuah klinik kesehatan. Pasien di situ tidak terlalu banyak. Di samping saya duduk seorang perempuan dan temannya atau mungkin suaminya. Mereka asyik sekali mengobrol. Tak lama kemudian seseorang masuk. Rupanya mereka saling mengenal. Mereka saling menanyakan kabar. Dari pembicaraan mereka, saya menyimpulkan bahwa seseorang yang baru datang itu sedang menjalani studi di bidang kedokteran. Perempuan yang duduk di samping saya kemudian bertanya: “Ambil apa”. Dijawab oleh orang tersebut: “Ambil ginjal”. Karena tidak terbiasa mendengar istilah-istilah yang dipakai oleh praktisi medis, saya agak merasa aneh mendengar kalimat ambil ginjal tersebut. Kok ginjal diambil? Saya kemudian hanya bisa menduga-duga bahwa mungkin yang dimaksud adalah orang tersebut sedang mempelajari atau mungkin meneliti ginjal dan penyakit-penyakit yang menyerang ginjal.

Di waktu lain saya mengunjungi poliklinik jantung di sebuah rumah sakit pemerintah. Setelah selesai pengambilan rekam jantung, saya melihat pasien yang lain, seorang perempuan berusia sekitar 70-an, sedang berkonsultasi dengan dokter. Saya mendengar perempuan itu terkejut dan berkata: “Jadi saya ada jantung, Dok?” Mendengar perkataan nenek itu, saya merasa heran dan membatin: “Ya iyalah, Nek. Kalau tidak ada jantungnya pasti nenek tidak ada di dunia ini.” Walaupun saya tahu maksud nenek tersebut adalah ingin mengonfirmasi kepada dokter bahwa ia mempunyai penyakit jantung, tak ayal saya merasa aneh juga mendengar kalimat tersebut.

Kebalikan dari yang ada jantung di atas, yang berikut ini justru tidak ada jantung. Beberapa waktu yang lalu saya menonton acara bincang-bincang di sebuah televisi swasta. Bintang tamunya adalah artis sepuh (tua) Laila Sari. Pembawa acara menanyakan keadaan diri artis tersebut. Artis tersebut menyatakan bahwa dirinya sehat walafiat, nggak ada jantung, dan seterusnya. Lagi, walaupun saya tahu maksud artis itu bahwa ia tidak mempunyai penyakit jantung, alias jantungnya baik-baik saja, tak ayal, saya merasa aneh juga mendengar kalimat nggak ada jantung tersebut. Logikanya, kalau tidak ada jantungnya berarti nenek itu juga tidak ada di dunia ini.

Beberapa waktu yang lalu, hampir setiap hari kita disuguhi sebuah iklan suplemen penurun kolesterol. Di akhir iklan, model iklan mengucapkan selamat tinggal pada kolesterol. Mengapa kolesterol diselamattinggali? Apakah tubuh kita tidak membutuhkan kolesterol? Saya heran karena yang saya tahu, kolesterol itu berguna juga untuk tubuh kita. Yang saya tahu juga bahwa kolesterol akan tidak berguna bahkan berbahaya jika kadarnya dalam darah sudah melampaui batas yang seharusnya atau batas normalnya. Akan lebih tepat, menurut saya, apabila model iklan tersebut mengatakan “bye, bye kolesterol tinggi” alih-alih “bye, bye kolesterol” karena kalimat bye, bye kolesterol mengindikasikan bahwa kita tidak membutuhkan kolesterol.

Dari peristiwa-peristiwa tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat sering mengabaikan nalar dalam berbahasa. Walaupun kita bisa menangkap maksud yang terkandung dalam kalimat-kalimat yang tidak bernalar, tapi alangkah eloknya bila kita tetap menggunakan nalar dalam berbahasa.

Written by kbplpengkajian

Juni 2, 2010 pada 11:39 am

Ditulis dalam Sustiyanti

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: