Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Rumah Anda Mau Dijual?

with one comment

DALAM berbahasa, kita harus mempertimbangkan unsur kelogisan. Tujuannya adalah agar ide kalimat dapat diterima oleh akal dan sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Dalam tuturan sehari-hari, kita mendengar kalimat yang dituturkan seseorang bisa dipahami, tetapi jika kita teliti benar akan tampak bahwa kata-kata yang digunakan dalam kalimat tersebut tidak memperlihatkan hubungan makna yang logis. Ketidaklogisan dalam kalimat menyebabkan kalimatnya salah. Salah dalam bernalar.

Beberapa waktu lalu, seorang tetangga saya berencana akan menjual rumahnya. Seorang tetangga yang lain memberitahukan informasi tersebut kepada saya. Katanya, “Bu, rumah itu mau dijual. Ibu mau beli? Saya dengar Ibu lagi cari rumah, ya?”

Sekilas tampaknya tidak ada persoalan dengan ucapan tetangga saya. Namun, bila kita amati lebih dalam, ada kejanggalan pada kalimat ”rumah itu mau dijual”. Saya (barangkali Anda) juga pernah melihat iklan singkat yang ditulis seseorang yang hendak menjual rumahnya yang bunyinya “Rumah ini mau dijual”. Tulisan ini biasanya dipasang di pagar atau di pintu depan rumahnya.

Tampaknya persoalan ini mengada-ada. Namun, bila kita amati, menarik untuk dibicarakan. Bukan keinginan sang pemilik untuk menjual rumahnya yang menjadi persoalan, melainkan dari segi kebahasaan. Secara nalar atau logika, kalimat “Rumah ini mau dijual” salah. Lalu, di mana letak kesalahannya? Kesalahannya ada pada penggunaan kata mau.

Dalam konteks kalimat tersebut, kata mau digunakan untuk menyatakan keakanan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata mau memiliki beberapa arti, 1) sungguh-sungguh suka hendak, suka akan; sudi, 2) akan; hendak, 3) kehendak, maksud. Untuk lebih jelasnya, kita lihat contoh berikut.

1. Kalau kau mau, makanlah kue itu!

2. Bapak mau ke luar kota.

3. Apa maumu datang ke sini?

Kata mau pada kalimat (1) memiliki makna suka akan sesuatu, yaitu kue, sedangkan kata mau pada kalimat (2) memiliki makna akan. Sementara kata mau pada kalimat (3) bermakna kehendak atau maksud.

Kembali kepada kalimat rumah ini mau dijual, penggunaan kata mau dalam kalimat itu menyebabkan kalimatnya tidak logis sehingga menimbulkan kesalahan dalam bernalar. Konteks kalimat tersebut bermakna rumah memiliki keinginan untuk dijual.

Mungkinkah? Saya (juga Anda) yakin tidak mungkin. Rumah adalah benda mati. Benda mati tidak memiliki keinginan apa pun. Yang memiliki keinginan adalah makhluk hidup berjenis manusia.

Kata mau akan tepat digunakan dalam kalimat, misalnya, pada contoh kalimat (1) dan kalimat (3) tadi. Kata kamu dan kau (kependekan engkau) adalah kata ganti orang. Orang merupakan benda hidup dan memiliki keinginan atau kehendak.

Jika kalimat rumah ini mau dijual merupakan konteks kalimat yang salah, lalu bagaimana seharusnya kalimat yang tepat? Kalimat tadi sebaiknya diubah menjadi rumah ini akan dijual. Kata akan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan sesuatu yang hendak terjadi.

Sekadar contoh lainnya yang berkaitan dengan salah nalar atau kelogisan berbahasa adalah kalimat yang membawa ponsel harap segera dimatikan. Kalimat ini biasanya diumumkan oleh pengurus masjid pada saat para jamaah akan melakukan salat jumat.

Pengurus masjid menginginkan semua pemilik ponsel mematikan atau menonaktifkan ponselnya sehingga selama salat jumat berlangsung para jamaah tidak terganggu dan bisa mendapatkan ketetangan serta kekhusyukan. Namun, kalimat itu terasa aneh dan tidak logis. Kalau kita perhatikan strukturnya, yang membawa ponsel merupakan subjek kalimat.

Subjek tersebut merujuk kepada seseorang, sebut saja, Andi, dan harap segera dimatikan sebagai predikat. Subjek dikenai perbuatan seperti yang disebutkan predikatnya.

Kalimat tadi bermakna seseorang yang membawa ponsel (Andi) segera dimatikan (dibunuh). Masyaallah. Kejam sekali. Hanya karena membawa ponsel di dalam masjid, seseorang bisa mati dibunuh. Tentu saja maksudnya tidak seperti itu. Kiranya kita bisa memahami bahwa yang harus dimatikan adalah ponselnya, bukan orangnya.

Agar tidak menimbulkan salah nalar, kalimat tadi harus diubah menjadi yang membawa ponsel diharapkan segera mematikan ponselnya. Jelaslah bahwa yang harus dimatikan adalah ponselnya, bukan orangnya.

Nah, jika kita berucap, mengemukakan pikiran, perasaan, atau keinginan kita dengan menggunakan bahasa, wujud kalimat yang kita munculkan harus logis. Jika wujudnya kacau, itu terbukti bahwa pikiran yang mengeluarkan bahasa itu kacau. Ini menunjukkan logika tidak berjalan baik atau penalaran tidak sempurna, seperti kata Badudu (Putrayasa, 2007)

Written by kbplpengkajian

April 29, 2010 pada 6:38 am

Ditulis dalam Kiki Zakiah Nur

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. nice post.. lam kenal..
    bisa tukeran link ga ??
    di tunggu kunjungan baliknya.. tq sob
    ————————————-
    Parah banget nihh..
    umur 12 tahun udah gak perawan..
    lihat di s i l e n c e f o r u m . b l o g s p o t . c o m ..

    moelyadicute

    April 29, 2010 at 6:46 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: