Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Merangsek dan Keteteran

leave a comment »

Salah seorang rekan kami di Kompartemen Bahasa harian ini, Susilowati namanya, menemukan bahwa kata merangsek belum ada dalam kamus terbaru. Padahal kata ini jamak dipakai media, termasuk Kompas. Merangsek itu menunjukkan verba yang bermakna masuk, menyerang, ofensif, mungkin juga penetrasi.

Bisa dikatakan, merangsek ini galib dipakai jurnalis, penulis, dan editor di media mereka bekerja. Sebab itu, sungguh heran kalau merangsek ini tidak diakomodasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Selain merangsek, kata yang umum tapi tak dimasukkan ke dalam kamus ialah keteteran. Kami mengetahuinya setelah seorang redaktur koran ini bertanya apakah keteteran sudah ada di kamus. Berhubung sudah sering dipakai, kata ini kami terima sebagai bentuk yang sudah umum dipakai. Namun, lagi-lagi, kata ini ternyata belum masuk dalam kamus. Kata asal teter memang ada, tapi maknanya tidak tepat.

Keteteran yang umum dipahami oleh pembaca ialah suatu kondisi keterdesakan, mendekati kekalahan, dan yang serupa dengan itu. Contoh dalam kalimat, “AC Milan keteteran menghadapi gelombang serangan pasukan Setan Merah”. Atau, “Polda Lampung keteteran menghadapi maraknya pembegalan di jalan lintas Sumatera”.

Dalam beberapa tulisan yang lalu di rubrik ini, saya menulis belantika yang juga tidak masuk dalam kamus. Kini kami menemukan dua kata lagi yang bernasib serupa.

Tentu ini sangat mengherankan. Kata yang umum dipakai masyarakat tidak dimasukkan, ssedangkan kata yang masih asing malah diakomodasi. Rasanya memang janggal kata stroke dalam bahasa Inggris berubah menjadi strok. Fans menjadi fan. Yang lucu chaos menjadi kaos.

Urusan berbahasa memang bergantung penerimaan masyarakat. Otoritas kebahasaan yang mengaturnya, memberikan bakuan tata cara berbahasa lisan dan tulisan. Yang harus ditemukan ialah kesesuaian antara yang baku dan akrab dipakai masyarakat. Idealnya memang seirama. Soal jemawa yang baku menjadi jumawa dalam bahasa lisan; tentang semringah yang baku menjadi sumringah; perihal ketilang yang baku menjadi kutilang di lisan kita; okelah masih nyambung.

Namun, kalau gadget yang punya arti perkakas dimasukkan tanpa pengubahan sehuruf pun, wow luar biasa. Padahal kata itu masih asing dan belum akrab diujarkan masyarakat kita. Bagaimana Pusat Bahasa?

Written by kbplpengkajian

April 15, 2010 pada 2:20 am

Ditulis dalam Adian Saputra

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: