Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Pasung

leave a comment »

Banyak kasus kekerasan terhadap anak terjadi dalam masyarakat. Beberapa waktu lalu salah satu media televisi swasta mengabarkan suatu peristiwa yang cukup membuat hati jatuh iba. Memang sungguh malang nasib Gia Wahyuningsih, gadis kecil yang, kata media televisi yang mengabarkannya, dipasung. Anak usia 4 tahun itu diikat pinggangnya oleh ayahnya selama dua tahun. Selama itu ia tidak bisa bermain sebagaimana layaknya anak-anak seusianya. Ia juga kurang makan sehingga tubuhnya terlihat kurus kering. Dikatakan bahwa ia mengalami keterbelakangan mental dan juga menderita penyakit epilepsi. Entah karena mengalami keterbelakangan mental sehingga dikhawatirkan hilang atau karena ayahnya tidak mau repot menjaganya, Gia dipasung oleh ayahnya.

Akan tetapi, apakah Gia benar-benar dipasung? Ternyata tidak. Gadis kecil itu memang dibelenggu atau diambil kebebasannya, tetapi bukan dengan cara dipasung melainkan dengan cara diikat pinggangnya. Sungguh tidak pas rasanya terdengar ditelinga bahwa Gia yang pada kenyataannya diikat pinggangnya tetapi dikatakan dipasung.

Kata dipasung dan diikat, kedua-duanya digunakan oleh televisi tersebut. Dipasung dan diikat memang hal yang sama, yaitu sama-sama terambil kebebasannya atau terbelenggu. Akan tetapi kita rasanya juga tahu bahwa terdapat perbedaan yang cukup jelas di antara keduanya. Untuk lebih jelasnya, mari kita tengok sejenak Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam kamus itu dikatakan bahwa pasung adalah alat untuk menghukum orang, berbentuk kayu apit atau kayu berlubang, dipasangkan pada kaki, tangan, atau leher. Dengan demikian, orang yang dipasung adalah orang yang dibelenggu dengan alat berbentuk kayu apit yang berlubang yang dipasangkan pada kaki, tangan atau leher.

Di sisi lain, kata ikat, dalam kamus itu, adalah tali (benang, kain, dsb) untuk mengebat (menyatukan, memberkas, menggabungkan). Diikat dapat berarti disatukan atau digabungkan dengan menggunakan tali. Tali tersebut bisa berupa benang, kain, dan sebagainya.

Dari penjelasan yang diperoleh dari kamus terlihat perbedaan antara dipasung dan diikat. Dipasung adalah dibelenggu dengan menggunakan kayu apit yang berlubang sedangkan diikat adalah dibelenggu dengan menggunakan tali.

Lantas, mengapa media televisi yang memberitakan peristiwa tersebut seperti tidak bisa membedakan kedua kata tersebut? Saya sendiri juga tidak tahu. Saya hanya bisa menduga-duga bahwa mungkin maksud penyampai berita adalah bahwa bocah yang diikat tersebut direnggut kebebasannya. Kebebasan yang direnggut diungkapkan dengan istilah dipasung. Mungkin penyampai berita menganalogikannya dengan misalnya pernyataan undang-undang antipornografi dianggap memasung kreativitas pekerja seni. Memasung kreativitas berarti membatasi atau membelenggu kreativitas. Mungkin berangkat dari analogi semacam ini, segala sesuatu yang terbatasi atau terbelanggu bisa diartikan dengan terpasung sehingga bocah yang sejatinya diikat dengan kain dikatakan dipasung.

Judul berita Anak Dipasung mungkin dianggap lebih menarik daripada judul berita Anak Diikat. Akan tetapi, menyamakan dua kata yang jelas mempunyai perbedaan, menurut hemat saya, amat disayangkan. Saya khawatir jika kata dipasung digunakan secara terus-menerus untuk mengungkapkan sesuatu yang diikat, lambat laun kedua kata tersebut akan dianggap sama.

Kata belenggu, ikat, dan pasung adalah kata yang mempunyai perbedaan tetapi juga mempunyai persamaan. Ketiga kata tersebut mempunyai hubungan makna. Kata yang satu membawahkan kata yang lain. Kata belenggu membawahkan kata ikat dan pasung. Jika kita mengingat kembali pelajaran di sekolah, hubungan makna yang demikian disebut dengan hiponimi, yaitu hubungan ketercakupan. Makna kata yang satu mencakup makna kata yang lain. Kata yang di bawah (hiponim) mencakup makna kata yang lebih umum. Kata belenggu mempunyai makna yang lebih umum daripada kata ikat maupun kata pasung. Jadi, makna kata ikat dan pasung mencakup makna kata belenggu.

Dari pengingatan kembali pelajaran di sekolah tersebut, dapat disimpulkan bahwa ikat dan pasung sudah pasti belenggu. Oleh sebab itu, daripada menggunakan kata pasung untuk mengungkapkan sesuatu (anak) yang diikat alangkah lebih baik jika digunakan saja kata belenggu. Jadi, jika judul berita Anak Diikat tidak menarik, mengapa tidak digunakan saja judul Anak Dibelenggu alih-alih Anak Dipasung.

Keanekaragaman kosa kata bahasa Indonesia merupakan aset kekayaan budaya nasional. Marilah kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia turut serta dalam menjaga kekayaan tersebut agar tidak punah atau keliru karena sering digunakan secara tidak tepat.

Written by kbplpengkajian

Maret 24, 2010 pada 2:30 am

Ditulis dalam Sustiyanti

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: