Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Pemakaman atau Permakaman?

leave a comment »

Ketika saya dan sahabat saya hendak berziarah ke makam salah satu teman kami yang baru saja meninggal, sahabat saya itu bertanya, “Apa nama kompleks pemakamannya?”. Saya menjawab singkat, “kompleks permakaman Andrawina!”

Maklum, sahabat saya itu memang belum pernah mengerti kompleks makam dekat perumahan saya. Dari cerita tersebut, saya yakin pemakaian bentuk pemakaman dan permakaman telah dirancukan. Sebagian pemakai bahasa pasti mengatakan kompleks pemakaman atau tempat pemakaman sebagai bentuk lain kuburan atau makam.

Dalam ilmu bahasa, makna imbuhan gabungan atau konfiks per-an adalah hal yang berkaitan dengan bentuk dasarnya. Maka, makna per-an pada permakaman adalah hal yang berkaitan dengan makam. Agaknya selama ini bentuk kebahasaan itu selalu dikacaukan dengan makna pemakaman, yang sesungguhnya sama sekali tidak menunjukkan pada tempat makam atau kuburan. Akan tetapi, karena bentuk bahasa itu banyak digunakan orang dan sudah lama digunakan jadilah bentuk salah kaprah itu digunakan di setiap kesempatan.

Adapun konfiks pe-an seperti pada pemakaman maknanya adalah cara, perbuatan, atau proses yang tampak dari bentuk verba me-. Jadi, bentuk pemakaman tidak dapat dipahami sama sekali sebagai kompleks permakaman atau tempat memakamkan atau kompleks makam tetapi harus dimaknai sebagai aktivitas perbuatan memakamkan atau cara memakamkan atau proses memakamkan.

Analogi yang bisa digunakan untuk memperkuat kebenaran bahwa bentuk permakaman mengacu pada kompleks atau tempat makam adalah bentuk persawahan, perkebunan, dan perikanan. Persawahan dimaknai sebagai hal yang berkaitan dengan sawah. Bentuk perkebunan adalah hal yang berkaitan kebun. Demikian pula dengan perikanan pasti maknanya adalah hal yang berkaitan dengan ikan. Jadi, tidak bisa kita menyebutkan pesawahan, pekebunan, dan peikanan tetapi persawahan, perkebunan, dan perikanan.

Bentuk salah kaprah yang lain yang berkaitan dengan permakaman, tetapi sepertinya sulit dibetulkan adalah pedesaan. Banyak orang menyebut wilayah pedesaan atau daerah pedesaan. Bukankah makna pe-an berbeda sekali dengan per-an disebutkan di atas. Jadi, kalau disepakati bahwa konfiks per-an adalah hal yang berkaitan atau hal yang disebutkan pada bentuk dasar, bentuk yang mestinya digunakan adalah perdesaan.

Selama ini tidak pernah muncul bentuk salah yang menjadi pembanding yakni pekotaan, tetapi yang muncul adalah perkotaan. Maka, bentuk yang benar pasti juga perdesaan. Sama halnya dengan pemukiman, yang selama ini banyak dimaknai secara salah sebagai hal yang berkaitan dengan tempat tinggal atau mukim, sekarang harus dimaknai sebagai aktivitas atau kegiatan memukimkan. Jadi, pemukiman warga miskin tidak dapat dimaknai sebagai tempat mukim bagi warga miskin atau ihwal mukim bagi warga miskin, tetapi harus dimaknai sebagai proses memukimkan warga miskin atau aktivitas memukimkan warga miskin.

Berkenaan dengan keterangan di atas, kesalahkaprahan yang terjadi dalam pemakaian bahasa Indonesia, harus sesegera mungkin dibetulkan, agar tidak menjadi salah kaprah yang akhirya justru kian menyulitkan. Semoga kita dapat membetulkan kesalahkaprahan bentuk-bentuk kebahasaan ini.

Written by kbplpengkajian

Maret 10, 2010 pada 2:09 am

Ditulis dalam Ninawati Syahrul

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: