Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Pemangku Kepentingan

leave a comment »

BEBERAPA hari lalu saya didaulat teman-teman di Lembaga Swadaya Masyarakat Mitra Bentala menjadi moderator sosialisasi program ketahanan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Dalam diskusi itu, salah seorang pembicara, Erwin Nugraha, mewakili Mercy Corps, menguraikan materi dengan bahasa Indonesia yang cukup baik.

Erwin bukan orang asing buat saya. Sewaktu masih aktif memberikan tutorial di rohani Islam di SMAN 2 Bandar Lampung, Erwin merupakan “murid” dalam kelompok yang saya ampu. Bangga rasanya melihat orang yang dahulu sempat saya ajar, kini berhasil dan punya kemanfaatan untuk masyarakat. Namun, bukan itu yang menjadi intisari artikel sederhana ini.

Dalam pemaparannya, Erwin mengganti kata stakeholder dengan pemangku kepentingan. Kata pemangku kepentingan memang bukan sesuatu yang teranyar. Beberapa media cetak nasional sudah menggunakan istilah ini dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun demikian, pemangku kepentingan masih kalah populer dengan stakeholder.

Pembaca koran, pemirsa televisi, dan pendengar radio masih mudah menerima stakeholder walaupun tak tahu secara pasti apa makna kata itu. Barangkali pula ada yang memaknainya dengan sejenis makanan karena ada unsur stick-nya. Ya sebangsa daging panggang mungkin.

Pemangku kepentingan. Amboi, jujur saja, saya menyukai istilah itu. Jika dirasa-rasa dengan nalar, pemangku kepentingan sungguh tepat untuk menggantikan stakeholder dari singgasana bahasa ujar masyarakat kita, terutama kelompok cendekiawan dan jurnalis media massa.

Dalam Wikipedia, ada juga artikel kecil soal pemangku kepentingan ini. Wikipedia beranggapan stakeholder bermakna pihak-pihak yang memiliki keterkaitan terhadap sesuatu hal.

Stakeholder, jika kita artikan secara makna, bisa berarti pihak-pihak yang berkepentingan dengan sesuatu hal. Misalnya, ada aturan tentang larangan nikah siri. Stakeholder yang berkaitan dengan itu bisa berasal dari ulama, Kementerian Agama, pegawai negeri sipil, dan ibu-ibu bersuami.

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat,pemangku kepentingan diartikan sebagai orang atau pihak yang memiliki kepentingan.

Artinya memang sempit hanya kepada person atau lembaga yang punya kewenangan. Namun, andaipun itu benar, rasanya tak masalah. Toh pemangku kepentingan memang merujuk kepada mereka yang punya otoritas. Pemangku kepentingan adalah padanan yang sungguh pas untuk stakeholder. Paling tidak untuk ruang lingkup masyarakat Lampung yang diwakili harian terbaik di Lampung ini, istilah pemangku jabatan bisa disiarkan dan acap dipakai.

Kita juga berkeinginan agar uji kelayakan dan kepatutan bisa menjadi pilihan istilah buat penutur atau penulis yang ingin memakai fit and proper test. Yang juga penting saya kira, pemangku kepentingan dalam urusan berbahasa di negara ini harus aktif memopulerkan kata atau istilah dalam bahasa Indonesia. Alangkah anggunnya jika senarai teks dan naskah dalam semua bacaan anak bangsa di negara ini menggunakan bahasa Indonesia yang baik.

Written by kbplpengkajian

Maret 3, 2010 pada 2:01 am

Ditulis dalam Adian Saputra

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: