Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

‘Pra-Wedding’ ala Tukang Jamu

leave a comment »

Persoalan campur aduk bahasa memang sesuatu yang tidak akan menggangu stabilitas dapur banyak orang sehingga mereka tidak begitu khawatir dan mempersoalkannya. Slogan “Jadilah Pengguna Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar”, “Utamakan Bahasa Indonesia”, dan “Menjunjung Bahasa Indonesia berarti Menjunjung Martabat Bangsa” mungkin hampir sama dengan celoteh penjual jamu yang berharap konsumennya menjadi sehat dan kuat. Mungkin karena jamu kalah gengsi dengan obat impor, masyarakat Indonesia lebih percaya dengan sesuatu yang berbau asing meskipun obat yang dari luar itu sering ditemukan bermasalah oleh BPOM. Jadilah, semua yang berbau lokal dinomorduakan oleh orang lokal itu sendiri.

“Sebagian besar rakyat Indonesia berwatak inlander (bumiputra, penduduk asli) yang senang dijajah bangsa lain,” begitu kira-kira komentar salah seorang saksi ahli saat berbicara di depan Pansus Bank Century beberapa waktu lalu. Komentar saksi ahli itu tidak berbeda jauh dengan sebaris lirik lagu yang berjudul Sistem karya Puppen: “Mungkin, kita masih terjajah dalam bentuk baru”. Mereka (dan sebagian kecil rakyat Indonesia lainnya) sadar bahwa hampir semua ranah di bumi pertiwi ini di(ter)jajah.”

Ah, ini bukan bahasan politik yang membuat orang bertaktik, hanya persoalan bahasa Indonesia dalam upaya membuat orang tergelitik untuk memikirkannya.

Bentuk pra-wedding merupakan salah satu bentukan campur aduk kata dari dua bahasa yang berbeda, pra- merupakan morfem terikat (bound morpheme) dalam bahasa Indonesia, wedding merupakan morfem bebas (free morpheme) dalam bahasa Inggris. Beda spesies, bukan?

Penulisan pra-wedding itu sering ditemui dalam portal jejaring sosial, Facebook. Album yang diberi judul pra-wedding itu berisikan beberapa pose sepasang kekasih yang akan melangsungkan pernikahan. Memang, rubrik ini (lagi-lagi hanya soal bahasa) tidak akan mempersoalkan isi foto seperti yang dipersoalkan oleh MUI tentang larangan foto pranikah. Disadari atau tidak, mereka menamai album foto mereka dengan sesuatu yang berbeda spesies. Sangat disayangkan, padahal yang akan menikah itu satu spesies, bukan?

Yang menjadi pertanyaan, apakah mereka menyakini sesuatu yang kerap ditemui, seperti bentuk pra-wedding, sebagai hal yang lumrah meskipun kurang tepat? Apakah mereka hanya sok Inggris saja seperti halnya salah satu awak bus perusahaan swasta yang menuliskan area merokok di dalam bus dengan tulisan semoking area (seharusnya, smoking area)? Apakah iya? Padahal, portal jejaring sosial itu mendunia. Sudah tentu, mereka memiliki kecakapan dalam berbahasa internasional (seperti Inggris atau lainnya) untuk bertukar informasi dan berkomunikasi.

Dalam bahasa Indonesia, selain pra- ada banyak morfem terikat dalam bahasa Indonesia yang tidak bisa berdiri sendiri, diantaranya pasca-, nara-, sub-, antar-. Sayangnya, bentuk terikat semacam itu sering ditulis terpisah, seperti dalam contoh pasca sarjana, nara sumber, sub sistem, dan antar provinsi. Seharusnya, penulisan yang tepat adalah pascasarjana, narasumber, subsistem, dan antarprovinsi.

Dalam bahasa Inggris, ada pula morfem terikat yang harus berpasangan seperti dalam bahasa Indonesia, di antaranya un- (contoh: uncover, undo) dis- (contoh: displeased, disconnect), pre- (contoh: predetermine, prejudge).

Sebaiknya, penulisan pra-wedding yang kurang tepat itu diubah menjadi prewedding agar senyawa (bahasa Inggris saja) atau morfem terikat pra- dipasangan dengan nikah yang merupakan padanan wedding menjadi pranikah agar senyawa (bahasa Indonesia saja). Totalitas, jangan setengah-setengah. Kalau mau berbahasa asing, ya gunakan dengan tepat agar bermanfaat dan tidak menyesatkan. Atau kalau tidak, ya berbahasa Indonesialah yang baik dan benar. Salam.

Written by kbplpengkajian

Februari 10, 2010 pada 1:43 am

Ditulis dalam Danang Harry Wibowo

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: