Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Belantika yang Hilang

leave a comment »

SUATU malam kami seperti biasa mengoreksi halaman demi halaman koran ini. Seorang di antara kami, Nur Handayani namanya, bertanya kepada saya. “Bang, belantika pake ‘e’ gak?”

Saya jawab pakai. Nur kemudian membolak-balik Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat yang diterbitkan Gramedia. Rekan kami yang lain, Wiji Sukamto, kemudian berkata kepada saya. “Di kamus enggak ada, lo, Bang.”

Saya yang pernah merasa membaca kata belantika, terang saja penasaran. Rupanya teman itu benar. Di kamus terbaru kata belantika tidak ada. Saya kemudian ingat kata itu saya baca di kamus edisi ketiga. Pertanyaan yang muncul, mengapa kata belantika tidak ada di kamus paling baru. Logikanya, kata itu harus ada karena ia populer digunakan.

Pada kamus edisi ketiga kata belantika berarti usaha dagang atau jasa dalam dunia permusikan. Kata ini kemudian memang dipakai dalam konteks musik. Sebab itu, jika menggunakan kata belantika dalam skop musik, tidak perlu ada kata musik.

Kata belantika kemudian mengalami perluasan makna. Dia tidak semata menunjukkan sesuatu yang berhubungan dengan musik, tetapi juga dalam ranah yang lain. Misalnya sepak bola. Kita lazim menemukan frasa belantika sepak bola nasional dalam tulisan di banyak media. Maksudnya tentu saja semua perihal yang berkenaan dengan sepak bola.

Kembali ke belantika yang hilang. Saya menduga ini hanya kekhilafan teknis yang bisa terjadi kepada siapa saja. Kata belantika–yang teramat lazim digunakan–sangat pantas untuk dipertahankan. Kita barangkali bisa memaklumi begitu kata narkotika menjadi kata baku menggantikan narkotik dalam kamus edisi ketiga. Demikian pula ketika penyusun kamus membakukan selebritas dari selebriti untuk menunjukkan orang yang terkenal atau masyhur.

Sebagai contoh lain, kata gadget. Kata dalam bahasa Inggris ini bisa dipadankan dengan peranti atau perkakas elektronik. Namun, dalam kamus termutakhir ini, kata itu sudah diserap, bahkan utuh. Gadget dalam bahasa Inggris diserap sama dan sebangun dengan kata aslinya. Tak ada perubahan satu huruf pun.

Demikian pula dengan grade dalam bahasa Inggris yang menunjukkan tingkatan. Dalam kamus terbaru ini, kata itu sudah pula diserap menjadi grad. Demikian pula halnya dengan stroke (bahasa Inggris) untuk menunjukkan penyakit serangan otak, dalam kamus bahasa Indonesia ini ditulis strok.

Okelah jika penyusun kamus menganggap kata-kata itu perlu dimasukkan ke dalam kosakata kita lantaran jamak dipakai secara lisan dan tulisan.

Namun, jika kata belantika benar-benar dihilangkan, tentu disayangkan. Di tengah proses pengindonesiaan kosakata dari beragam bahasa, kok kita malah menghilangkan kosakata yang akrab digunakan penulis dan penutur bahasa Indonesia .

Ke depan saya kira penyusun kamus bahasa mesti lebih telaten dalam memberikan panduan berbahasa untuk masyarakat. Hal yang kecil tapi bisa jadi memiliki dampak yang luas.

Kata belantika hanya contoh kecil “penghilangan” kosakata dalam perpustakaan lama bahasa kita. Tidak menutup kemungkinan ada beberapa kata lain yang bernasib serupa. Akan tetapi, mudah-mudahan tim kami tidak menemui kejadian seperti di atas.

Written by kbplpengkajian

Februari 3, 2010 pada 2:06 am

Ditulis dalam Adian Saputra

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: