Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Pengrajin Akronim

leave a comment »

“GARA-GARA ‘udin’ pada waktu itu, istrimu langsung tak enak badan,” kata temannya. Sontak telinga Sarwan menjadi panas mendengar cerita rekan kerja istrinya itu. Sarwan yang temperamental hendak mengambil badik dan segera menyambangi “udin” yang kebetulan tetangganya.

“Maksudnya, karena udara dingin, bukan udin yang kau kenal itu,” pungkas rekan istrinya itu sambil terkekeh. Sarwan pun tersenyum.

Ya, rekan istrinya itu akhir-akhir ini memang kerap berkelakar lewat akronim. Tak hanya udin yang berarti “udara dingin”, melainkan berbagai akronim lain seperti cumi (cuma mirip), kutilang (kurus, tinggi, dan langsing), rem pakem (remaja pencinta kamping), dan pengacara (pengangguran banyak acara).

Dari cerita di atas, beruntung rekan istrinya itu bukan perajin, melainkan pengrajin; setidaknya ia tak terlalu rajin untuk bermain akronim. Ada kalanya saja.

Mungkin mirip juga dengan peran media (cetak) pada akhir-akhir ini: menjadi pengrajin akronim; di tengah rutinitasnya berkabar lewat ragam tulisan yang tertuntut untuk selalu cepat dan aktual. Saking cepatnya, melenakan kaidah berbahasa saat “bermain” akronim. Padahal, dalam Keputusan Mendikbud RI Nomor 0543a/U/198 tanggal 9 September 1987, tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indoneia yang Disempurnakan, seperti disebut Oyos Saroso H. N. (Lampung Post, Laras Bahasa, 20 Januari 2010), yang di antaranya adalah akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

Dulu saya mendengar “petrus” yang berarti penembak misterius. Sebuah nama yang tak asing seolah berubah serupa tokoh antagonis. Mengapa tak “penerus” untuk arti itu? Pikir saya waktu itu. Sekarang saya mendengar “markus” (kasus Anggodo-Bank Century) yang berarti makelar kasus; sebuah kombinasi vokal dan konsonan yang asal, menurut saya. Selain ketaksaan yang kurang berterima untuk kalangan yang lebih memahami kata (nama) “markus”.

Syahdan, dari persoalan itu, Presiden SBY pun meminta Jaksa Agung Hendarman Supanji mengganti istilah “markus” menjadi calo kasus. Istilah baru pun ditetaskan Hendarman, yakni “cakil” yang berarti calo keliling. Hmm, saya tak habis berpikir.

Merujuk pada KBBI, kata makelar memiliki arti perantara perdagangan (antara pembeli dan penjual), orang, atau badan hukum yang berjual beli sekuritas atau barang untuk orang lain atas dasar komisi. Kini kata itu bersanding dengan kata kasus, malah menjadi “markus”, sebuah nama yang menurut saya kasus “penderitaanya” sama seperti di atas, udin (udara dingin). Pun dengan kata “cakil” memiliki arti batang kayu yang berkait untuk melilitkan ujung tali pada benda tersebut. Selain istilah cakil dalam pewayangan yang merupakan seorang raksasa dengan rahang bawah yang lebih panjang daripada rahang atas.

Begitu dinamisnyakah bahasa hingga acap seenak-udelnya untuk disandingkan, dan menggugah makna baru yang tak tentu berterima?

Masih banyak fenomena di negeri ini, dan akan banyak pula fenomena kebahasaan di antaranya para pengrajin menggemakan banyak frase menjadi ragam akronim. Entah, itu karena mereka pintar atau sebaliknya. “Orang pintar minum tolak angin, orang malam bikin akronim,” kata Sitok Srengenge.

Written by kbplpengkajian

Januari 27, 2010 pada 9:16 am

Ditulis dalam F. Moses

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: