Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Salah Kaprah

with 2 comments

Masihkah kita akan mengejar ketertinggalan, membangun banjir kanal timur, mengentaskan kemiskinan, atau menjadi korban inulisasi? Agaknya itu tidak perlu terjadi bila kita memahami konsep kebangsaan disertai dengan pemahaman bahasa yang baik. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, tentunya kita juga sepakat bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang “besar” pula. Sayangnya, penghargaan terhadap bahasa Indonesia seringkali tidak sebesar penghargaan terhadap bangsa Indonesia. Hal ini terbukti dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Kita sebagai penutur bahasa Indonesia dan pemilik bahasa Indonesia seringkali latah mencampur-adukkan penggunaan bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Belum lagi persoalan salah kaprah dalam penggunaan bahasa Indonesia sendiri yang tentunya dapat menimbulkan kesalahpahaman antarpeserta tutur. Salah kaprah memang menjadi persoalan yang kerap muncul dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Salah kaprah merupakan kesalahan yang dianggap lazim atau biasa. Kesalahan ini tentunya dapat menimbulkan ketaksaan makna atau bahkan kesalahan arti. Kasus mengejar ketertinggalan, misalnya, berakibat salah arti. Frasa mengejar ketertinggalan terbentuk dari kata kerja mengejar dan kata benda ketertinggalan. Analisis sederhana terhadap frasa ini dapat dianalogikan dengan frasa lain yang sama-sama dibentuk dengan kata kerja mengejar.

Frasa mengejar bola atau mengejar cinta tentunya dapat dipahami oleh semua penutur bahasa Indonesia bahwa dalam kasus ini, bola dan cintalah yang dikejar. Artinya, bila berhasil mengejar, subjek akan memperoleh bola atau cinta. Berdasarkan analogi ini, bila kita masih menggunakan frasa mengejar ketertinggalan hasilnya tentunya ketertinggalan itu yang akan kita peroleh.

Lalu masihkah kita akan mengejar ketertinggalan? Bukankah kita tertinggal sehingga harus mengejar untuk maju. Jadi istilah yang tepat adalah mengejar kemajuan.

Pun demikian dengan kasus mengentaskan kemiskinan. Frasa ini terbentuk dari kata kerja mengentaskan dan kata benda kemiskinan. Kata mengentaskan sendiri berasal dari kata dasar entas yang berarti mengangkat, menyadarkan, atau memperbaiki nasib atau keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik. Dengan demikian, tentunya kita dapat langsung memahami bahwa penggunaan frasa mengentaskan kemiskinan bukanlah istilah yang tepat. Mengentaskan kemiskinan berarti mengangkat kemiskinan. Penggunaan frasa ini dapat dianalogikan dengan penggunaan kata mengentaskan dalam contoh kalimat berikut: “Para menteri diminta untuk mengentaskan petani kecil melalui program transmigrasi.”

Melalui contoh kalimat ini dapat dipahami bahwa program transmigrasi merupakan salah satu upaya untuk mengangkat kehidupan petani kecil menjadi lebih baik.

Kasus inulisasi berbeda lagi. Kesalahan dalam hal ini tidak menimbulkan kesalahan arti, tetapi dapat merusak struktur bahasa Indonesia. Kesalahan seperti ini lebih sering muncul dalam bahasa Indonesia. Hal ini biasanya terjadi karena pengaruh bahasa asing atau bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia. Terbentuknya istilah inulisasi, jawanisasi, kristenisasi, dan islamisasi merupakan pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Indonesia. Kata-kata ini dianggap seolah sama dengan kata kolonisasi, standardisasi, atau sosialisasi. Padahal pembentukan kata-kata ini bukan dari kolon+isasi, standar+isasi, atau sosial+isasi.

Akan tetapi, kata-kata ini terbentuk karena penyerapan utuh dari bahasa aslinya colonize, standardization (Inggris) atau standardisatie (Belanda), dan socialize. Oleh karena itu, padanan untuk inulisasi, jawanisasi, kristenisasi, dan islamisasi tentunya lebih tepat dengan menggunakan istilah penginulan, penjawaan, pengkristenan, dan pengislaman karena akhiran isasi sepadan dengan imbuhan pe—an dalam bahasa Indonesia.

Dalam kasus yang lebih sederhana, salah kaprah terjadi hingga ke tataran fonologis. Kesalahan pada tataran fonologis ini terlihat mengganggu bila digunakan dalam ragam tulis. Salah kaprah yang kerap muncul adalah penggunaan fonem /z/ dengan /s/ atau /j/ serta penggunaan fonem /f/ dengan /v/ atau /p/.

Misalnya penggunaan kata telepon dengan telefon, ijazah dengan ijasah, asas dengan azas, november dengan nopember, provinsi dengan propinsi seringkali tidak diperhatikan penggunaannya. Padahal, meskipun kecil dan tidak mempengaruhi makna, kesalahan seperti ini menunjukkan ketidakpedulian kita terhadap bahasa Indonesia.

Kesalahan kecil semacam ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat kecil. Tak banyak instansi pemerintah di provinsi ini yang tertib kaidah bahasanya, paling tidak yang tercermin dari papan nama yang mereka pajang di halaman kantor. Lalu siapakah lagi yang masih mau peduli dengan bahasa Indonesia? Mari kita mulai memperbaiki dari kesalahan yang paling kecil!

Written by kbplpengkajian

Januari 22, 2010 pada 11:29 am

Ditulis dalam Yulfi Zawarnis

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. gak ada yg original smua tulisan dah basi……

    Marten

    Februari 10, 2010 at 12:51 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: