Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Antara Lampung dan Jakarta

leave a comment »

SETIAP Jumat saya selalu pulang ke Jakarta. Begitulah rutinitas yang sudah saya jalani selama empat tahun. Saya bekerja di Lampung, tetapi keluarga di Jakarta. Kadang-kadang ada teman yang bertanya, “Nggak capek Mbak, antara Lampung dan Jakarta kan jauh?”

Selain frase “Antara Lampung dan Jakarta”, sering juga saya dengar frase “Antara Lampung dengan Jakarta” dan “Antara Lampung hingga Jakarta”.

Saya merasa akhir-akhir ini makin banyak pengguna bahasa yang tidak lagi menghiraukan aturan bahasa. Sebagian pengguna bahasa tidak tahu persis, apakah bentuk yang digunakan benar atau salah. Jadi, sebagian pengguna bahasa masih mengabaikan aturan bahasa.

Dalam tatanan aturan bahasa, kelalaian kita memprihatinkan. Pada judul antara Lampung dan Jakarta di atas sudah benar. Akan tetapi, kenapa sebagian pengguna bahasa justru gemar menggunakan bentuk korelatif lain “antara Lampung dengan Jakarta” atau “antara Lampung hingga Jakarta”.

Maka dalam pemakaian keseharian, tidak jarang kita menemukan bentuk seperti antara…dengan, antara…hingga, dan antara…melawan, dalam kalimat yang lain. Maka satu-satunya bentuk benar adalah antara…dan. Bentuk korelatif adalah bentuk kata yang bersifat mempunyai hubungan timbal balik.

Masih berkaitan dengan antara, sebagian orang masih sering mengacaukannya dengan antar. Maka, antarkedua provinsi sering dipertukarkan secara keliru dengan antara kedua provinsi. Namun, antara kedua provinsi tidak benar. Bentuk antara selalu harus digunakan secara korelatif dengan “dan” sehingga menjadi antara…dan.

Sebaliknya, antar adalah bentuk terikat yang pemakaiannya harus digabungkan dengan bentuk dasar bebas yang menyertainya.

Bentuk korelatif lain yang juga sering dikacaukan pemakaiannya. Bentuk tidak…melainkan dan bukan…tetapi, sepertinya juga perlu kita cermati. Bentuk tidak sebagai adverbia atau kata keterangan hanya dapat berpasangan dengan tetapi.

Maka, yang benar adalah tidak…tetapi. Ada pun pasangan bukan sebagai adverbia adalah melainkan, maka bentuk korelatifnya bukan…melainkan.

Kelalaian kita pada bentuk korelatif ternyata tidak berhenti di situ. Adverbia tidak…tetapi dan bukan…melainkan sering dipakai untuk menegasi jenis kata yang tidak tepat.

Bentuk tidak…tetapi hanya bisa digunakan untuk menidakkan verba atau kata kerja dan adjektiva atau kata sifat. Adapun bukan…melainkan digunakan untuk membukankan nomina atau kata benda.

Jadi, tidak hanya meja tetapi juga kursi adalah bentuk salah. Demikian pula bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik adalah bentuk keliru. Bentuk yang benar adalah tidak hanya mengajar tetapi mendidik, dan bukan hanya meja melainkan kursi.

Satu hal lagi yang harus kita cermati adalah tidak lain dan tidak bukan. Bentuk idiomatis itu maknanya benar-benar, hanyalah, ialah (KBBI, 118). Akan tetapi, bentuk senyawa itu tidak dapat dijelaskan secara linguistik. Saya cenderung mengatakan tidak lain dan tidak bukan bersifat idiomatis. Bentuk idiomatis memiliki bentuk kesenyawaan.

Jadi, tidak dapat seenaknya diubah konstruksinya, direduksi bentuknya, dan dipertukarkan bagiannya. Maka, bentuk di atas tidak dapat diganti menjadi tidak bukan dan tidak lain, tetapi harus bentuk idiomatis tidak lain dan tidak bukan.

Masih banyak bentuk kebahasaan lain yang dapat menunjukkan bahwa kita gemar mengabaikan aturan bahasa. Lalu siapa lagi yang akan merawat bahasa Indonesia dengan benar, kalau bukan kita semua.

Written by kbplpengkajian

Januari 13, 2010 pada 11:41 am

Ditulis dalam Ninawati Syahrul

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: